Jumat, 31 Mei 2013

Catatan kecil perjuangan ustadzku








Catatan kecil tentang Perjuangan “Ustadz” ku

 Kalau ada da’I, Ustadz atau apapun sebutannya untuk seorang mubaligh yang berdakwah tanpa meminta bayaran mungkin ia salah satu dari segelintir orang tersebut.

Adalah Acep Saefullah yang dilahirkan di ujung kota bogor, 1 juli 1973 lalu. Selain aktif sebagai pengajar di salah satu sekolah yang dikelolanya, ia juga pernah dan masih aktif berdakwah di majlis az-zikra yang diasuh oleh Ust. Arifin Ilham.

Kesehariannya layaknya orang kebanyakan, bergelut dalam aktifitas sebagai kepala keluarga yang tentu tak lepas dari tanggung jawab untuk membesarkan, mendidik, mengawasi dan membina keluarga kecilnya yang telah dianugerahi 2 orang putra dan seorang putri.

Yang menjadi sorotan ane tentang beliau adalah niat tulusnya dalam mensyiarkan islam, membagi ilmu dengan berdakwah tanpa pamrih. 

Ane aktif dalam pengajian yang diasuhnya setiap malam rabu dilingkungan Kel. Duren mekar RT.01/RW04 Bojongsari depok. Walapun hanya pengajian “kuping” dan waktunyapun relative singkat, namun apa yang beliau ajarkan sangat bermanfaat. 

Bayangkan, apa jadinya jika kami yang hidup tanpa basic pendidikan agama, tanpa kenal pesantren, kemana harus berpijak saat lingkungan menuntut kami untuk berada dalam garis yang benar, sementara pengetahuan tentang itu sangat minim kami miliki.

Materi tausiah yang beliau sampaikan cukup mudah dicerna, mudah dimengerti bahkan untuk yang sudah berusia lanjut.

Karena ternyata banyak hal2 kecil yang sebenarnya sangat penting untuk dibenahi. Mulai cara hidup ala rasulullah sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Tuntunan do’a mulai dari cara makan, tidur, wudhu, mandi, keluar rumah, masuk/keluar wc, bahkan pengetahuan tentang puasa, zakat, haji dan bnyak lagi yang lainnya.

Belakangan beliau aktif menghidupkan musholla dan masjid2 dalam tausiah subuh keliling, dan itupun tanpa meminta bayaran. Paling juga dapet sepiring nasi uduk dan segelas teh dari pngurus DKM.

Bahkan dipertengahan tahun ini kita dapat mudah mengakses aktifitas beliau melalui akun facebooknya yang selalu memberikan potongan dakwah ringan sambil menemani kita yang aktif browsing didunia maya.
Berkenaan dg itu sebenarnya ini yang saya mau ane tulis, bahwa keberadaan Gadget ataupun smartphone yang sering digunakan oleh beberapa orang bahkan oleh ust. Acep sendiri ternyata mendapat sedikit sorotan dari masyarakat. 

Kenapa dapat sorotan seperti itu dan mengapa sampai begitu ? 

Alumni Ponpes Darut Tafsir Alhussaeini dan Lulusan magister Agama UIN Syarif Hidayatullah ini tentu memiliki banyak alasan mengapa beliau mnggunakan Ipad dan akun FB sbagai sarana dakwah. Selain efisien, multiguna, juga bisa mnjadi contoh bahkan menjadi icon pengguna Internet yang sehat.


Orang yang belum mengenal gadget sperti Ipad, Smartphone sperti Blackberry, atau netbook pasti mengira barang ini adalah sarana social yang ga lebih dari hiburan untuk main game, chatingan di jejaring soaial sperti facebook, tweeter, ym, whatsup, kakao, dan bnyak lagi, bahkan untuk sarana mengakses dunia pornographi tanpa batas.

Hellloooooo, peradaban teknologi tidak bias dihindarkan. Kita orang muslim harus bisa kuasai teknologi. Smua punya dampak, ya negative ya positif. Adalah tugas kita dalam hal ini meminimalisir penyalahgunaan teknologi informatika dalam keseharian kita. 

Hal paling bodoh adalah ketika seorang menilai gadget itu sebagai pengganggu kekhusuan dalam beibadah. Ehemmmmm,,,,…Jadilah orang yang smart, kalupun ada seorang ustadz yang selalu membawa, memakai gadgetnya dalam berdakwah itu karena beliau merasa inilah saatnya memanfaatkan teknologi. 

Gadget itu bias merangkum berapapun banyaknya catatan, isi kitab bahkan terjemahan alqur’an tanpa mengurangi arti dari isi dan kandungannya.

Anehnya orang yang punya pandangan seperti itu justru ga pernah tau apa isi dan fungsi sbuah gadget seperti ipad, miris sekali. Buta teknologi tapi bisa memvonis bahkan menyalahkan si yang empunya
Terjadi, dilingkungan ane juga. Saat ane dengar seorang mngatakan ngga khusuk sholat dan tausiahnya karena ustadznya bukan buka kitab tapi buka laptop. Dibilang ustadznya ngajinya mainin laptop melulu

Wooooooowwwww,,,, kalau boleh, ane yang ngasih argument dah. Ustadz cukup duduk manis aja.   Heheheheheheh
Makanya kalo nggak tau kalo nggak ngerti mbok ya ora usah ngomong neko-neko. Apakah anda yang berkata sperti tadi itu tau kalo yang dilakukan Ust. Acep di facebook itu adalah dakwah? Apakah anda punya akun FB untuk mengakses FBnya ust. Acep?

Atau jangan2 anda akan kaget setelah mempunyai akun FB mata anda akan terbuka lebar, bisa tau teman, tetangga, saudara, bahkan aktifitas anggota keluarga yang selama ini luput dari perhatian anda.

Faktanya, ane memiliki gambar yang diambil dari akun FB tetangga yang dikenal sangat santun, muslimah, bahkan keluarga terhormat tetapi berfose dg lawan jenis yang bukan muhrim layaknya suami istri. Dan itu diupload kedalam akun FB yang dapat diakses oleh siapapun. Lalu kemana control orang tua? Bukankah lebih baik kalo si org tuanya juga memiliki akses untuk tau bagaimana anaknya diluar sana? 

Tanpa dipungkiri, mengenal dunia maya membuat kita tahu bahwa ada kehidupan lain selain didunia ini yang memang tanpa batas. Kita sebagai muslim mesti menguasainya, mesti mampu meminimalisasi bahaya kebebasan internet dg banyak memberikan nasehat, memasukan hal2 positif untuk membendung, mengimbangi bahayanya.



Semoga Ust. Acep tetap istiqomah terus berjuang berdakwah demi syiar islam ditanah Dumek khususnya dan masyarakat pada umumnya. Apapun sarana yang kita punya, kembangkan, kuasai, lanjutkan. Media dakwah yang sudah ada terus perbnyak.
Ingatkan kami yang bodoh dalam ilmu agama disetiap kajian diberanda facebooknya untuk selalu menjalankan apa yang memang diwajibkan, menjauh dari apa yang seharusnya dilarang.

Semoga kita dibersamakan kelak bersama junjungan kita baginda Rasulullah                  Nabi Muhammad SAW.      Aamiin ya robbal ‘alamiin

Mohon maaf kepada semua pihak, dan terima kasih atas kunjungannya diblog ini.
ane mau gawe lagi, cuzzzzzzzz,...... Wassalam.